Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

10 September 2026 17:21 WIB 5 Tips dan trik10 September 2026 17:21 WIB 5
Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

Tantrum pada anak adalah hal yang cukup sering membuat orang tua bingung, apalagi ketika anak tiba-tiba menangis keras, berteriak, marah, berguling-guling, atau bahkan memukul dan melempar barang. Situasi seperti ini bisa terjadi di rumah, di tempat umum, bahkan saat sedang berkumpul bersama keluarga.

Sebenarnya, tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Anak yang masih kecil belum selalu mampu memahami dan menyampaikan perasaannya dengan baik. Ketika merasa kecewa, lelah, lapar, takut, atau keinginannya tidak terpenuhi, emosi tersebut bisa keluar dalam bentuk tantrum.

Meski begitu, bukan berarti orang tua harus membiarkan semua perilaku anak saat tantrum. Ada cara menghadapi anak tantrum yang lebih tenang dan tepat agar anak perlahan belajar mengatur emosinya.

Apa Itu Tantrum pada Anak?

Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya ditunjukkan melalui menangis, berteriak, marah, merengek, memukul, menendang, atau menolak melakukan sesuatu.

Tantrum lebih sering terjadi pada anak usia balita karena kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi masih berkembang. Misalnya, seorang anak ingin membeli mainan ketika berada di toko. Saat orang tua mengatakan tidak, anak merasa kecewa tetapi belum tahu bagaimana menyampaikan rasa kecewanya. Akhirnya, ia menangis atau berteriak.

Tantrum bukan berarti anak nakal. Namun, anak tetap perlu belajar bahwa marah atau kecewa boleh, tetapi menyakiti diri sendiri maupun orang lain bukanlah cara yang tepat untuk melampiaskan emosi.

Penyebab Anak Mengalami Tantrum

Sebelum mencari cara mengatasi tantrum pada anak, orang tua sebaiknya memahami penyebabnya terlebih dahulu.

Beberapa penyebab tantrum yang cukup umum antara lain:

  • Anak merasa keinginannya tidak terpenuhi.
  • Lapar atau haus.
  • Mengantuk atau kurang tidur.
  • Terlalu lelah setelah bermain atau beraktivitas.
  • Merasa bosan.
  • Tidak mendapatkan perhatian dari orang tua.
  • Kesulitan menyampaikan keinginan atau perasaannya.
  • Terlalu banyak stimulasi, misalnya berada di tempat yang ramai.
  • Merasa kehilangan kendali terhadap suatu keadaan.

Kadang penyebabnya terlihat sederhana bagi orang dewasa, tetapi bisa terasa sangat besar bagi anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mencoba melihat situasi dari sudut pandang anak.

Baca juga: Tips Mengajarkan Anak tentang Tanggung Jawab Sejak Dini

Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

1. Tetap Tenang

Hal pertama yang perlu dilakukan ketika anak tantrum adalah menjaga diri agar tetap tenang. Memang tidak mudah, terutama jika tantrum terjadi di tempat umum dan banyak orang yang melihat.

Namun, membentak atau ikut berteriak biasanya tidak membuat anak lebih cepat tenang. Justru suasana bisa semakin panas.

Cobalah berbicara dengan suara yang lebih rendah dan tenang. Anak akan belajar dari cara orang tua merespons emosinya.

2. Jangan Langsung Menuruti Semua Keinginan Anak

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan saat menghadapi tantrum adalah langsung memberikan apa yang anak inginkan agar berhenti menangis.

Sesekali mungkin terlihat berhasil. Tetapi jika selalu dilakukan, anak bisa belajar bahwa menangis atau berteriak adalah cara untuk mendapatkan sesuatu.

Jika permintaan anak memang tidak bisa dipenuhi, tetap sampaikan penolakan dengan tenang. Misalnya, “Mama tahu kamu mau mainan itu, tapi hari ini kita tidak membeli mainan.”

Baca juga: Dampak Memanjakan Anak

3. Validasi Perasaan Anak

Memvalidasi perasaan bukan berarti menyetujui semua perilaku anak. Orang tua bisa mengakui perasaannya tanpa membenarkan tindakan yang salah.

Contohnya, daripada berkata, “Jangan nangis!” orang tua bisa mengatakan, “Kamu kecewa ya karena tidak boleh membeli mainan.”

Kalimat sederhana seperti ini membantu anak mengenali emosinya. Seiring bertambahnya usia, anak akan semakin mampu mengatakan bahwa dirinya sedang marah, sedih, kecewa, atau takut.

4. Berikan Waktu untuk Anak Menenangkan Diri

Ketika anak sedang berada di puncak emosinya, biasanya sulit untuk mengajaknya berdiskusi panjang. Jadi, jangan memaksakan anak untuk langsung mendengarkan nasihat.

Berikan ruang yang aman sampai emosinya mulai mereda. Orang tua tetap bisa berada di dekatnya untuk memastikan anak tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Setelah anak lebih tenang, barulah ajak berbicara mengenai apa yang terjadi.

Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Anak Stres di Rumah

5. Alihkan Perhatian Jika Memungkinkan

Untuk anak yang masih kecil, mengalihkan perhatian terkadang cukup efektif. Misalnya, ketika anak mulai rewel karena ingin mengambil sesuatu yang berbahaya, orang tua bisa menawarkan aktivitas lain yang lebih aman.

Namun, teknik ini sebaiknya tidak selalu digunakan untuk menghindari pembicaraan mengenai emosi. Anak tetap perlu belajar memahami alasan mengapa sesuatu tidak boleh dilakukan.

6. Buat Rutinitas yang Teratur

Tantrum lebih mudah muncul ketika anak lapar, mengantuk, atau terlalu lelah. Karena itu, rutinitas sehari-hari yang cukup teratur dapat membantu.

Pastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup, makan secara teratur, dan memiliki waktu bermain sekaligus waktu istirahat.

Hal-hal sederhana seperti ini sering kali membantu mengurangi frekuensi tantrum.

Baca juga: Peran Ibu sebagai Madrasah Pertama bagi Anak

7. Konsisten dengan Aturan

Jika orang tua sudah membuat aturan, usahakan untuk menerapkannya secara konsisten. Jangan hari ini melarang sesuatu, tetapi besok membolehkan hanya karena anak menangis.

Konsistensi membuat anak memahami batasan dengan lebih jelas. Anak juga belajar bahwa menangis atau tantrum tidak otomatis membuat aturan berubah.

Apa yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Anak Tantrum?

Ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika anak sedang tantrum. Misalnya membentak, mempermalukan anak di depan orang lain, mengancam secara berlebihan, atau melakukan kekerasan fisik.

Mengatakan “Kamu anak nakal” juga sebaiknya dihindari. Lebih baik fokus pada perilakunya, bukan memberikan label kepada anak.

Contohnya, daripada mengatakan “Kamu nakal karena memukul,” lebih baik mengatakan, “Memukul itu tidak boleh karena bisa membuat orang lain sakit.”

Dengan begitu, anak memahami perilaku mana yang salah tanpa merasa dirinya sebagai pribadi yang buruk.

Kapan Tantrum Perlu Mendapat Perhatian Lebih?

Tantrum pada anak merupakan bagian dari perkembangan yang umum. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan jika tantrum terjadi sangat sering, berlangsung sangat lama, semakin berat, atau sampai membahayakan anak maupun orang lain.

Jika orang tua merasa kesulitan menghadapi kondisi tersebut atau khawatir dengan perkembangan perilaku anak, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai.

Tidak perlu merasa gagal sebagai orang tua ketika membutuhkan bantuan. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Baca juga: Dampak Screen Time Berlebihan pada Keterampilan Sosial Anak Usia Dini

Kesimpulan

Mengatasi tantrum pada anak membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Anak bukan hanya perlu diberitahu bahwa perilakunya salah, tetapi juga perlu diajarkan bagaimana mengenali dan mengelola emosinya.

Ketika anak tantrum, cobalah tetap tenang, pahami penyebabnya, validasi perasaannya, tetap berikan batasan, dan tunggu sampai emosinya mereda sebelum mengajaknya berbicara.

Yang paling penting, jangan berharap anak langsung bisa mengendalikan emosinya dalam satu atau dua kali. Kemampuan mengelola emosi adalah sesuatu yang dipelajari secara bertahap. Dengan pendampingan yang konsisten dari orang tua, anak akan perlahan belajar menghadapi rasa marah, kecewa, dan frustrasi dengan cara yang lebih baik.

Sumber foto: https://unsplash.com/id/@zacharykadolph

Share :